Mencari Waralaba Asing yang Layak Comot
Sumber: swa.co.id | Kamis, 24 November 2005
Oleh : Joko Sugiarsono
Meskipun jumlah dan jenis waralaba yang berkiprah di Indonesia makin bejibun, masih banyak waralaba asing yang potensial dikembangkan di sini. Siapa saja yang layak dicermati dan seberapa besar potensinya?
Jauh sebelum BreadTalk membuat kalangan konsumennya –semisal di Singapura ataupun Kelapa Gading Jakarta — berbaris antre untuk bisa menikmati kelezatan roti buatannya, sekaligus asyik menonton aksi pembuatannya, Krispy Kreme sudah memelopori. Bahkan, dengan euforia yang lebih kental. Hampir bisa dipastikan, terutama sekali di setiap pembukaan gerai baru toko donat ini – di Amerika Serikat, Kanada ataupun Australia — para pengunjung pun menyemut. Di AS, penggemar donat lezat ini malah punya yel-yel khas: Krispy Kreme doughnuts, yowweee! Tak jarang, saking hiruk pikuknya polisi lalu lintas terpaksa terjun menertibkan para penggemar berat itu. Selain rasanya, agaknya mereka juga tertarik melihat “pertunjukan†pembuatan donat ini di doughnut theatre — istilah untuk ruang yang dipenuhi dengan mesin pembuat donat di setiap toko Krispy Kreme — yang bisa disaksikan lewat jendela kaca. Saking populernya, di negara asalnya, AS, nama Krispy Kreme menjelma sebagai salah satu ikon budaya pop.
Tentu, itu bukan sekadar euforia yang terlihat secara fisik. Dari sisi finansial, kehadiran gerai donat Krispy Kreme biasanya mampu menggaet pemasukan luar biasa. Ambil contoh, ketika pada 19 Juni 2003 gerai donat Krispy Kreme pertama di Australia dibuka, uang yang berhasil dikeruk di hari pertama mencapai US$ 300 ribu. Meski tak segila itu, pada 24 Juni ketika gerai donat semacam ini diluncurkan di Boston, AS, duit yang masuk di hari perdananya US$ 73 ribu. Kalau kita mau melihatnya dengan lebih konservatif, di tahun 2001 — seperti diungkap dalam laporan tahunan perusahaan yang go public tahun 2000 ini — pemasukan rata-rata per minggu per gerai waralaba donat ini mencapai US$ 43 ribu, atau ekuivalen dengan revenue US$ 2,2 juta/tahun. Tahun 2002 naik lagi dengan perkiraan mencapai US$ 60-70 ribu/minggu per gerai, atau sekitar US$ 3,4 juta setahun. Malah, gerai Krispy Kreme yang berlokasi di pinggiran Denver berhasil mencetak pemasukan sekitar US$ 8 juta/tahun.
“Itu memang angka-angka yang luar biasa,†ujar Timothy Bates, profesor ekonomi yang mempelajari masalah waralaba di Universitas Negeri Wayne (Wayne State University), seperti dikutip Fortune Small Business. Ia malah menyebutkannya sebagai prestasi ekstrem di industri waralaba fast-food. Pendapat Bates rasanya tak berlebihan. Sebab, seperti diperkirakan para pakar waralaba, gerai McDonald’s yang sepadan diperkirakan hanya mampu menggaet revenue rata-rata US$ 1,5 juta setahun. Pemain lain yang juga sudah punya nama, malah hanya mampu di bawah itu: Dunkin’ Donuts rata-rata US$ 744 ribu/tahun, Cinnabon US$ 408 ribu/tahun, dan Auntie Anne’s US$ 395 ribu/tahun.
Tak heran, dengan prestasi tersebut, banyak peminat hak waralaba dari berbagai negara yang ngiler. Kabar bagusnya buat peminat waralaba di Indonesia: merek yang satu ini belum masuk ke sini, alias masih ada kesempatan ditubruk. Pengamat franchise Eduard Hans Setiady dari Hans Consulting, juga menyebut Krispy Kreme sebagai salah satu nama besar yang layak diperhatikan. Sayangnya untuk Asia, seperti terungkap di website-nya, Krispy Kreme Doughnuts Inc. (KKD) baru menawarkan hak waralaba gerai donat ini untuk negara Cina, Jepang, Hong Kong, Singapura dan Taiwan. Namun biasanya setelah itu nama Indonesia sebagai calon area pengembangan juga akan menyusul. Apalagi mengingat di tiga negara (AS, Kanada dan Australia) baru ada sekitar 300 gerai Krispy Kreme (bandingkan dengan Dunkin’ Donuts yang di AS saja sekitar 3.600 gerai).
