Pilih Alfamart atau Indomaret?

alfamart_indomaretWaralaba lokal Alfamart dan Indomaret terus bersaing ketat. Saat ini, kabarnya antrean untuk menjadi franchisee di kedua franchise ritel tersebut masih panjang. Nah, jika Anda juga mau terjun ke bisnis tersebut manakah sebaiknya yang dipilih?

Tentu tidak mudah menemukan jawabannya. Keduanya sama-sama memiliki jaringan yang luas dan brand yang kuat. Tak heran, jika di sejumlah tempat banyak yang berani ”adu kesaktian” dengan membuka toko Alfamart-Indomaret bersebelahan.

Meski sulit, sejumlah ”penilaian” dari pihak ketiga barangkali perlu masuk ke dalam hitungan. Misalnya, hasil survei yang memotret perkembangan bisnis franchise di Indonesia.

Pada Juli lalu, Majalah SWA dan Roy Morgan, melakukan survei terhadap calon investor waralaba. Nah, berdasarkan hasil survei ini, calon investor memberikan masing-masing skor Alfamart  98 dan Indomaret 70.

Tetapi survei yang sama, memperlihatkan Indomaret sebagai waralaba yang paling direkomendasikan oleh konsumen. Indomaret paling direkomendasi dengan nilai 7,1 menurut survei itu.

Apa artinya? Calon investor cenderung melihat Alfamart ”lebih prospektif”, sebaliknya konsumen melihat Indomaret ”lebih oke”. Jadi, pertanyaanya apakah kita akan mengikuti naluri para calon investor atau persepsi konsumen?

Jika anda ragu, barangkali lebih baik melakukan investasi pada keduanya. Sehingga nanti akan diketahui mana sebenarnya yang dapat memberikan return lebih baik.

Toni Jack’s Indonesia Darah Baru Waralaba?

Editorial surat kabar Jawa Pos (14/10) mengangkat tentang waralaba. Perspektif yang dikemukakan terkait langkah Bambang Rachmadi yang memilih mendirikan Toni Jack’s Indonesia (TJI). Penulis Editorial surat kabar itu melihat hal tersebut sebagai positif, bahkan kemudian diasosiasikan dengan mendiang Sukyatno Nugroho yang sukses membesarkan Es Teler 77.

Tentu saja ini agak aneh, sebab kasus ini bukan “banting setir” biasa, melainkan perselisihan dagang yang berakhir dengan lepasnya hak waralaba McDonald’s dari genggaman Bambang Rachmadi. Memang kemunculan TJI akan ikut menambah jumlah waralaba lokal. Tapi, agaknya ini bukan skenario yang dikehendaki. TJI muncul karena tidak ada jalan keluar yang lain.

Meski begitu, kita berharap waralaba di tanah air terus bergairah dan tumbuh tidak sekedar “exit strategy” dari sebuah masalah.

Darah Baru Waralaba
Sumber: Jawa Pos

Pengusaha nasional Bambang Rachmadi tentu punya alasan mengapa memilih nama Toni Jack’s Indonesia (bukan Tono Joko Indonesia, misalnya, yang berkonotasi nasional) untuk jaringan restorannya. Yang pasti, langkah Bambang yang pernah menjadi ikon di balik McDonald’s Indonesia itu adalah sebuah fenomena.

Disebut fenomena karena Bambang bukan orang baru dalam usaha tersebut. Dengan segenap suka dukanya, 19 tahun dia membesarkan nama McDonald’s di Indonesia. Karena itu, saat Bambang memilih banting setir dengan mengusung brand-nya sendiri, ini bisa menjadi suntikan darah segar yang bisa memacu usaha wa­ralaba (franchise) di tanah air.

Boleh jadi hanya sebuah kebetulan jika berdirinya jaringan Toni Jack’s Indonesia (TJI) hampir bersamaan dengan penobatan batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO lalu. Ini ditandai dengan perubahan nama, logo, interior, nama menu, dan kemasan 13 restoran terkemuka jaringan restoran siap saji tersebut, termasuk gerai pertama McD di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, menjadi TJI.

Perubahan itu memang sebagai dampak perselisihan antara Bambang Rachmadi dan International Development Services yang berafiliasi dengan McDonald’s Corporation di Amerika. Tentu bukan soal perselisihan itu yang menjadi perhatian di sini, apalagi mempersoalkan siapa yang salah atau benar. Namun, lebih pada berdirinya TJI.

Karena kebutuhan modal dan risiko usaha yang relatif kecil, saat ini bertumbuhan usaha waralaba lokal di tanah air. Termasuk yang gerainya hanya berupa kios-kios kecil sekitar di perumahan kita, seperti kedai kebab, salon, pendidikan (kursus), bengkel sepeda motor, dan lain-lain.

Tahun ini dunia bisnis diperkirakan tumbuh 30 persen. Dengan kemampuannya menyerap SDM dan bahan baku yang hampir 100 persen lokal, usaha waralaba memberikan sumbangan yang tidak sedikit bagi ketahanan ekonomi. Ini terutama saat menghadapi terpaan krisis global.

TJI sendiri menargetkan bisa membuka 200 gerai di seluruh Indonesia dalam tiga tahun mendatang. Memang, ini tantangan yang tidak gampang bagi TJI untuk merealisasikannya. Namun, dengan pengalaman dan reputasi Bambang Rachmadi, hal tersebut bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Dalam hal komitmen untuk membangun waralaba lokal, kita teringat kepada almarhum Hoo Tjioe Kiat atau yang lebih dikenal dengan nama Sukyatno Nugroho. Lewat kerja kerasnya, lulusan SMP asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu menjadi salah satu ikon dan pelopor waralaba di tanah air.

Peraih Satya Lencana Pembangunan dan penulis buku 18 Jurus Sakti Dewa Mabuk Membangun Bisnis ini sukses menjadi pendiri dan pembangun jaringan waralaba Grup Es Teler 77. Meski dengan skala usaha yang tak sebesar McD, ratusan gerai Sukyatno berdiri di berbagai tempat.

Saat ini ada puluhan, bahkan mungkin ratusan, pembangun jaringan waralaba (franchisor) yang gigih mengembangkan usaha di tanah air. Seperti moto Sukyatno saat membangun Grup Es Teler 77, mereka semua tentu bermimpi menjadi “Juara Indonesia” yang bisa membawa kemakmuran ekonomi bangsa.