Editorial surat kabar Jawa Pos (14/10) mengangkat tentang waralaba. Perspektif yang dikemukakan terkait langkah Bambang Rachmadi yang memilih mendirikan Toni Jack’s Indonesia (TJI). Penulis Editorial surat kabar itu melihat hal tersebut sebagai positif, bahkan kemudian diasosiasikan dengan mendiang Sukyatno Nugroho yang sukses membesarkan Es Teler 77.
Tentu saja ini agak aneh, sebab kasus ini bukan “banting setir” biasa, melainkan perselisihan dagang yang berakhir dengan lepasnya hak waralaba McDonald’s dari genggaman Bambang Rachmadi. Memang kemunculan TJI akan ikut menambah jumlah waralaba lokal. Tapi, agaknya ini bukan skenario yang dikehendaki. TJI muncul karena tidak ada jalan keluar yang lain.
Meski begitu, kita berharap waralaba di tanah air terus bergairah dan tumbuh tidak sekedar “exit strategy” dari sebuah masalah.
Darah Baru Waralaba
Sumber: Jawa Pos
Pengusaha nasional Bambang Rachmadi tentu punya alasan mengapa memilih nama Toni Jack’s Indonesia (bukan Tono Joko Indonesia, misalnya, yang berkonotasi nasional) untuk jaringan restorannya. Yang pasti, langkah Bambang yang pernah menjadi ikon di balik McDonald’s Indonesia itu adalah sebuah fenomena.
Disebut fenomena karena Bambang bukan orang baru dalam usaha tersebut. Dengan segenap suka dukanya, 19 tahun dia membesarkan nama McDonald’s di Indonesia. Karena itu, saat Bambang memilih banting setir dengan mengusung brand-nya sendiri, ini bisa menjadi suntikan darah segar yang bisa memacu usaha waralaba (franchise) di tanah air.
Boleh jadi hanya sebuah kebetulan jika berdirinya jaringan Toni Jack’s Indonesia (TJI) hampir bersamaan dengan penobatan batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO lalu. Ini ditandai dengan perubahan nama, logo, interior, nama menu, dan kemasan 13 restoran terkemuka jaringan restoran siap saji tersebut, termasuk gerai pertama McD di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, menjadi TJI.
Perubahan itu memang sebagai dampak perselisihan antara Bambang Rachmadi dan International Development Services yang berafiliasi dengan McDonald’s Corporation di Amerika. Tentu bukan soal perselisihan itu yang menjadi perhatian di sini, apalagi mempersoalkan siapa yang salah atau benar. Namun, lebih pada berdirinya TJI.
Karena kebutuhan modal dan risiko usaha yang relatif kecil, saat ini bertumbuhan usaha waralaba lokal di tanah air. Termasuk yang gerainya hanya berupa kios-kios kecil sekitar di perumahan kita, seperti kedai kebab, salon, pendidikan (kursus), bengkel sepeda motor, dan lain-lain.
Tahun ini dunia bisnis diperkirakan tumbuh 30 persen. Dengan kemampuannya menyerap SDM dan bahan baku yang hampir 100 persen lokal, usaha waralaba memberikan sumbangan yang tidak sedikit bagi ketahanan ekonomi. Ini terutama saat menghadapi terpaan krisis global.
TJI sendiri menargetkan bisa membuka 200 gerai di seluruh Indonesia dalam tiga tahun mendatang. Memang, ini tantangan yang tidak gampang bagi TJI untuk merealisasikannya. Namun, dengan pengalaman dan reputasi Bambang Rachmadi, hal tersebut bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan.
Dalam hal komitmen untuk membangun waralaba lokal, kita teringat kepada almarhum Hoo Tjioe Kiat atau yang lebih dikenal dengan nama Sukyatno Nugroho. Lewat kerja kerasnya, lulusan SMP asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu menjadi salah satu ikon dan pelopor waralaba di tanah air.
Peraih Satya Lencana Pembangunan dan penulis buku 18 Jurus Sakti Dewa Mabuk Membangun Bisnis ini sukses menjadi pendiri dan pembangun jaringan waralaba Grup Es Teler 77. Meski dengan skala usaha yang tak sebesar McD, ratusan gerai Sukyatno berdiri di berbagai tempat.
Saat ini ada puluhan, bahkan mungkin ratusan, pembangun jaringan waralaba (franchisor) yang gigih mengembangkan usaha di tanah air. Seperti moto Sukyatno saat membangun Grup Es Teler 77, mereka semua tentu bermimpi menjadi “Juara Indonesia” yang bisa membawa kemakmuran ekonomi bangsa.



yth,saya tertarik ingin buka tony jack’s di malang,tolong di bantu untuk informasinya.contact person JACK (081231187888)
THANKS
[Reply]