ToniJack’s vs McDonald’s

tonijackInvestasi pada franchise makanan sangat menguntungkan. Jenis franchise ini banyak dicari dan begitu diminati. Barangkali karena itu pula kemudian seringkali lantas timbul sengketa.

Kabar terbaru adalah tentang Tonijack’s yang diberitakan akan segera menawarkan hak waralaba pada 2010. Tetapi, headline Harian Kontan pagi tadi menyebutkan bahwa McD ngotot agar restoran ayam goreng yang berdiri Oktober lalu itu ditutup.

Kenapa? Rupanya, meski pihak Tonijack’s mengklaim bahwa tidak ada hubungan apa-apa dengan Bambang Rachmadi, tetapi McD menganggap sebaliknya. Menurut klausul di McD, ada aturan tentang non compete period di mana pihak yang dicabut hak waralabanya tidak diperbolehkan terjun di bisnis sejenis selama 18 bulan.

Kasus ini menarik, seperti juga dikutip Kontan, dalam wawancara KONTAN dengan Bambang Rachmadi pertengahan Oktober lalu, pengusaha yang harus menjadi tukang pel dan pembersih toilet di restoran dalam rangka ujian mendapat hak waralaba McD 19 tahun yang lalu ini, sempat mengaku bahwa ToniJack’s merupakan bisnis barunya.

Tak cuma itu, bahkan Tonijack’s dan Bambang Rachmadi oleh sebuah media disebut sebagai “darah baru waralaba“.

Apapun kelanjutan kasus ini, pelaku waralaba perlu mengambil hikmah dari sengketa ini. Apakah waralaba anda juga mengharuskan “non compete period”?

Pilih Alfamart atau Indomaret?

alfamart_indomaretWaralaba lokal Alfamart dan Indomaret terus bersaing ketat. Saat ini, kabarnya antrean untuk menjadi franchisee di kedua franchise ritel tersebut masih panjang. Nah, jika Anda juga mau terjun ke bisnis tersebut manakah sebaiknya yang dipilih?

Tentu tidak mudah menemukan jawabannya. Keduanya sama-sama memiliki jaringan yang luas dan brand yang kuat. Tak heran, jika di sejumlah tempat banyak yang berani ”adu kesaktian” dengan membuka toko Alfamart-Indomaret bersebelahan.

Meski sulit, sejumlah ”penilaian” dari pihak ketiga barangkali perlu masuk ke dalam hitungan. Misalnya, hasil survei yang memotret perkembangan bisnis franchise di Indonesia.

Pada Juli lalu, Majalah SWA dan Roy Morgan, melakukan survei terhadap calon investor waralaba. Nah, berdasarkan hasil survei ini, calon investor memberikan masing-masing skor Alfamart  98 dan Indomaret 70.

Tetapi survei yang sama, memperlihatkan Indomaret sebagai waralaba yang paling direkomendasikan oleh konsumen. Indomaret paling direkomendasi dengan nilai 7,1 menurut survei itu.

Apa artinya? Calon investor cenderung melihat Alfamart ”lebih prospektif”, sebaliknya konsumen melihat Indomaret ”lebih oke”. Jadi, pertanyaanya apakah kita akan mengikuti naluri para calon investor atau persepsi konsumen?

Jika anda ragu, barangkali lebih baik melakukan investasi pada keduanya. Sehingga nanti akan diketahui mana sebenarnya yang dapat memberikan return lebih baik.