Saatnya menanamkan investasi di franchise Alfamart?

alfamartBisnis franchise di sektor ritel tetap diminati meski perlambatan ekonomi global tak terhindarkan. Tengok saja, seperti dipublikasikan situsnya, franchise Alfamart menyebutkan tahun ini ada sekitar 1000 investor yang berminat membuka toko Alfamart. Padahal untuk sebuah toko tersebut diperlukan investasi sebesar Rp.350 juta.

Bisa jadi benar, krisis ekonomi tidak hanya menyebabkan keterpurukan seperti terlihat pada lesunya industri dan meluasnya PHK. Di sisi lain, impitan krisis juga mendorong semangat untuk mendirikan usaha baru.

Di tengah ketidakpastian, banyak orang seperti terpacu untuk mencari terobosan baru. Atau mungkin juga, investasinya sendiri sudah direncanakan sejak lama. Sayang ketika hendak dieksekusi krisis sudah terlebih dulu datang menerjang.

Apakah pilihan investasi pada waralaba seperti Alfamart tepat di kala krisis? Dengan memahami apa itu waralaba tentu saja investasi pada bisnis ini seharusnya memiliki risiko lebih rendah.

Meski membuka toko baru, tetapi sebetulnya toko tersebut tidak sepenuhnya baru karena brand yang dipakai sudah berkibar lama. Karena itu sangat berbeda dengan kreasi bisnis yang benar-benar memulainya dari titik nol.

Brand franchise kadang juga sudah memiliki pelanggan yang fanatik sehingga usaha sudah bisa berjalan lancar sejak hari pertama. Inilah keuntungan kita membeli franchise. Meski begitu ada dua tantangan yang perlu diperhatikan.

Pertama, seringkali karena semakin banyaknya investor yang masuk cakupan franchise area menjadi semakin sempit. Dalam keadaan seperti ini persaingan keras kerap terjadi justru antar pemegak hak waralaba yang sama. Belum lama ini saya mendengar cerita panas seperti ini dari pimpinan cabang sebuah franchise pendidikan.

Kedua, ekses yang paling nyata dari krisis adalah melemahnya daya beli masyarakat. Jika tidak berada di lokasi yang sangat bagus, franchisee harus sadar dengan konsekuensi jangka balik modal yang lebih lama.

Mengambil hak waralaba dengan brand yang kuat sudah pasti memiliki banyak keuntungan. Meski begitu, terlebih di dalam situasi sulit, perjanjian waralaba harus sungguh-sungguh diperhatikan. Jangan pula memaksakan membuka franchise di wilayah yang sudah “padat” dengan brand yang sama.

Seperti menaiki tangga, dengan franchise kita tidak perlu memulai bisnis dari urutan pertama. Tapi untuk berhasil, harap diingat, syarat dan ketentuan berlaku!

Foto: kontan.co.id